Oleh : 1) Dr. Ir. Ivan Yusfi Noor, M.Si. 2) Sugeng Handoyo, S.Hut. 3) Sony Sapulete

Dekade 80-an hingga pertengahan 90-an adalah masa suram bagi burung paruh bengkok di Taman Nasional Manusela. Masyarakat Negeri (Desa) Masihulan yang bertempat tinggal di bagian utara kawasan ini, sangat gemar berburu burung paruh bengkok yang ada di hutan Taman Nasional. Kegemaran ini menghasilkan banyak uang bagi mereka karena harga burung yang tinggi ditambah keberadaan penadah burung buruan yang tinggal bersama mereka di Masihulan.

Harapan pertama datang secara tidak terduga dari kedatangan Tim Ekspedisi Gua Hatusaka di Taman Nasional Manusela pada tahun 1991. Seorang fotografer perempuan dari Tim tersebut, Djuna Iveregh, tertarik untuk mendokumentasikan keunikan burung-burung Pulau Seram. Dalam usahanya itu, Djuna menemukan bahwa masyara-kat Masihulan melakukan perburuan burung-burung paruh bengkok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berangkat dari keprihatinan atas perburuan tersebut, mula-mula Djuna berupaya mengajak beberapa pemburu-pemburu burung Masihulan yang berpengalaman dan mahir, seperti Buce, Dores, Sopi dan Sony, untuk melakukan pengamatan burung. Kemudian ia juga mengajak mereka untuk membangun rumah pohon di dekat pohon sarang burung kakatua maluku agar memperoleh posisi pengamatan yang baik dan jelas. Kedatangan Djuna ini ternyata bukan hanya untuk mengamati burung, namun juga untuk mengajak masyarakat Masihulan agar tidak berburu burung lagi dan beralih ke pelestarian burung. Usaha yang dilakukan Juna tidak terlalu mudah sehingga ia harus tinggal cukup lama di Masihulan untuk mencapai maksudnya.

Di tahun 1996, berangkat dari kekhawatiran yang sama, Yayasan Wallacea yang dipimpin seorang bernama Caesar melibatkan diri dalam pelestarian burung paruh bengkok, khususnya yang berada di Taman Nasional Manusela. Bersama Djuna, melalui Project Bird Watch, Yayasan Wallacea berupaya menyadarkan masyarakat untuk tidak lagi berburu burung paruh bengkok dan mengajak mereka untuk melakukan pelestarian terhadap satwa liar tersebut melalui aktivitas ekowisata berbasis pengamatan burung. Melalui kolaborasi ini dibangunlah sebuah platform (rumah pohon) untuk pengamatan burung pada tahun 1997.

Membangun Rumah Pohon Dengan Perubahan Gaya Hidup

Sekitar tahun 2002, Yayasan Wallacea melakukan kerjasama dengan Indonesian Parrot Project yang dikomandoi Stewart Metz. Misinya sama: mencegah perburuan burung paruh bengkok dan memberikan alternatif mata pencaharian bagi masyarakat. Melalui kolaborasi ini juga berhasil dibangun Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Masihulan. Di tahun 2002 pula, Taman Nasional Manusela mulai terlibat dalam upaya pencegahan perburuan burung paruh bengkok dan penyadaran masyarakat. Upaya penyadaran masyarakat untuk menghentikan perburuan burung paruh bengkok di kawasan Taman Nasional tidak berjalan dengan mudah. Sesekali ketegangan dan konflik terjadi antara masyarakat dan pihak Taman Nasional, dan bahkan antara anggota masyarakat sendiri. Untuk mengurangi konflik yang terjadi, Taman Nasional Manusela berinisiatif untuk mengambil kebijakan pengelolaan dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan Taman Nasional. Taman Nasional Manusela merekrut beberapa masyarakat Masihulan sebagai Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Bukan hanya sebagai Mitra Taman Nasional beberapa diantara kami sekarang sudah ada yang diangkat menjadi tenaga kontrak di Balai Taman Nasional Manusela. Keahlian dan pengetahuan yang kami miliki dan didapat dari pengalaman berburu burung ternyata sangat berguna bagi pelaksanaan tugas-tugas pengelolaan kawasan seperti inventarisasi dan monitoring populasi satwa liar, khususnya burung paruh bengkok.

Masyarakat Masihulan sekarang tidak lagi menggantungkan hidupnya dari perburuan burung paruh bengkok. Walaupun masih tetap berkebun, kini mereka sudah memiliki sumber perekonomian alternatif yakni ekowisata yang mengandalkan keanekaragaman hayati dan ekosistem. Kini Negeri Masihulan sudah terkenal ke mancanegara sebagai tujuan ekowisata khususnya bagi pengemar burung, budaya, penjelajahan dan petualangan.

Show Buttons
Hide Buttons